Edamame merupakan kedelai asal Jepang yang populer dikonsumsi sebagai camilan sehat. Setiap 100 gram kedelai edamame mengandung 11,40 gram protein, 6,6 gram lemak, 582 Kcal kalori, 140 gram kalsium, 15,6 gram serat, 7,1 gram air, 1 gram besi, 1,7gram fosfor, 10,27 gram vitamin B1, dan 0,14 gram vitamin B2.

Kedelai edamame juga mengandung beta karoten dan isoflavone yang dapat menurunkan resiko tekanan darah dan pengerasan arteri, serta meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Rasa kedelai edamame yang enak dan kandungan gizi yang bermanfaat membuat kedelai inilah yang menjadi daya tarik.

Sumber: Google Image

Tanaman edamame termasuk tanaman semusim yang tumbuh tegak dan berdaun lebat. Umumnya edamame dipanen saat kedelai masih hijau. Beberapa varietas edamame yang umum dikembangkan di Indonesia diantaranya tsuronoko, taiso, ryokkoh, ocunami, dan tsumidori. Biasanya pembudidayaan edamame dilakukan di dataran rendah hingga hingga maksimum ketinggian 1200 m dpl.

Di dalam budidaya edamame, terdapat permasalahan utama tak bisa dianggap remeh. Permasalahan tersebut adalah hama pengganggu yang sering menyerang tanaman saat proses budidaya berlangsung. Berikut beberapa hama pengganggu tanaman kedelai edamame.

Ulat Grayak (Spodoptera litura Fabricius)

Sumber: www.nbair.res.in

Ngengat abu-abu merupakan serangga dewasa dari ulat grayak. Ngengat meletakkan telur secara berkelompok pada daun. Telur-telur tersebut akan menetas 4 hari setelah peletakan. Kemudian keluarlah ulat dari telur di permukaan daun dan memakan epidermis daun. Beberapa hari setelahnya, ulat grayak mulai hidup berpencar dan aktif makan pada malam hari.

Daun yang terserang akan terlihat berwarna putih dari kejauhan. Panjang tubuh ulat grayak yang sudah tumbuh sepenuhnya yaitu sekitar 50 mm. Selain menyerang daun, ulat dewasa juga memakan polong muda dan tulang daun muda.

Pengendalian yang dapat dilakukan untuk mengatasi serangan hama ulat grayak yaitu dengan menjalankan sistem tanam serempak, menggunakan varietas toleran (Ijen), dan menyemprotkan insektisida seperti Matador 25 EC, Tamuldok 25 EC, dan Arfo 30 EC jika serangan sudah mencapai ambang batas kendali yaitu kerusakan daun sudah mencapai 12,5%.

Lalat Bibit Kacang (Ophiomyia phaseoli)

Sumber: bugguide.net

Sejak tanaman kedelai masih muda, lalat bibit kacang sudah menyerang hingga tanaman berumur 10 hari dengan meletakan telurnya di daun tanaman muda. Setelah 2 hari, telur akan menetas dan mengeluarkan larva yang akan masuk ke dalam keping biji atau pangkal helai daun. Kemudian larva membuat lubang gerekan pada batang melalui kulit batang hingga pakal dan berubah menjadi kepompong.

Serangan lalat bibit kacang ditandai dengan adanya bintik-bintik putih di keping biji, daun pertama, dan kedua. Bintik tersebut merupakan bekas tusukan alat peletak telur. Serangan tersebut dapat dikendalikan dengan menggunakan mulsa jerami saat budidaya, perlakuan benih, dan menyemprotkan insektisida pada saat umur tanaman menginjak 7 hari jika serangan sudah mencapai ambang batas kendali. Insektisida yang dapat digunakan seperti Arrivo 30 EC, Neptune 20 EC, dan Tetris 30 EC.

Penggerek Polong Kedelai (Etiella spp.)

Sumber: lepinet.fr

Serangga dewasa penggerek meletakkan telur secara berkelompok di bagian bawah daun, kelopak bunga, ataupun polong. Telur menetas setelah 3-4 hari dan mengeluarkan ulat berwarna putih kekuningan yang akan berubah menjadi hijau dengan garis merah memanjang. Ulat yang baru keluar tersebut akan menggerek kulit polong dan biji, kemudian hidup di dalamnya. Setelah masa tersebut terlalui, ulat akan hidup di luar biji dan berubah menjadi kepompong hingga menjadi ngengat.

Jika tanaman Anda terserang penggerek polong dapat terlihat dari adanya lubang gerek berbentuk bundar pada kulit polong. Jika lubang gerek berjumlah dua, itu tandanya ulat penggerek sudah meninggalkan polong. Serangan ini dapat dikendalikan secara alami dengan melakukan sistem tanam serempak dan pelepasan parasitoid Trichogramma bactrae-bactrae. Sedangkan jika serangan sudah melebihi ambang batas kendali dapat dilakukan penyemprotan insektisida seperti Fastac 15 EC, Ripcord 5 EC, dan Rudal 25 EC.

Ulat Penggulung Daun (Lamprosema Indicata)

Sumber: Shutterstock

Seperti ulat grayak, serangga dewasa dari ulat penggulung daun adalah ngengat berwarna coklat kekuningan. Ngengat meletakkan telur secara berkelompok pada daun-daun muda. Ulat yang keluar dari telur akan menyerang dengan merekatkan daun satu dengan yang lainnya dengan zat perekat yang dihasilkannya. Kemudian daun akan tergulung dan ulat akan memakan daun dari dalam gulungan, sehingga yang tersisa hanya tulang daun saja.

Jika daun-daun kedelai terlihat tergulung menjadi satu, maka akan dijumpai ulat dan kotorannya yang berwarna coklat hitam. Cara mengendalikan serangan hama ini sama seperti pengendalian hama ulat grayak yaitu dengan menggunakan sistem tanam serempak dan menyemprotkan insektisida jika serangan sudah mencapai ambang batas kendali. Jenis insektisida yang dapat digunakan seperti Ambush 2 EC, Tetrin 30 EC, Radar 15 EC, dan Rudal 25 EC.

Kepik Polong (Riptortus linearis)

Sumber: www.nbair.res.in

Kepik polong dewasa berwujud mirip seperti walang sangit, berwarna kuning coklat dan terdapat garis putih kekuningan. Kepik menyerang dengan cara menusukkan stiletnya pada kulit polong hingga ke biji. Kemudian kepik akan mengisap cairan biji. Serangan tersebut terjadi pada saat fase pertumbuhan polong dan perkembangan biji. Setelah cairan biji terhisap, polong dan biji akan menipis, mongering, dan kemudian gugur.

Pengendalian hama ini dapat dilakukan dengan melakukan sistem tanam serempak, lalu menanam tanaman perangkap yaitu Sesbania rostrata, dan memberikan biopestisida (Bio-Lec) untuk menggagalkan penetasan telur. Insektisida yang dapat digunakan jika terjadi serangan melebihi ambang batas kendali yaitu seperti Ambush 2 EC, Decis 2,5 EC, dan Tetrin 30 EC.

Itulah 5 hama pengganggu yang sering menyerang tanaman kedelai edamame dan cara mengendalikannya. Usahakan untuk tetap melakukan pengendalian secara alami agar tanaman tetap sehat terhindar dari bahan kimiawi. Jika Anda menggunakan dosis insektisida dengan salah takaran, maka akan meningkatkan potensi hama menjadi lebih besar. Maka dari itu, bijaklah dalam mengendalikan hama pengganggu.