Tanaman sayuran daun dan bunga dari keluarga Brassicaceae seperti kubis termasuk salah satu komoditas hortikultura penting yang banyak diminati oleh konsumen. Jenis sayuran kubis-kubisan yang dibudidayakan pun ada beraneka ragam.

Setidaknya ada 7 jenis tanaman yang masuk kategori kubis-kubisan, di antaranya; kubis, sawi, pakcoy, kale, brokoli, kembang kol dan lobak. Memang beberapa nama sayuran di atas ada yang masih awam bagi sebagian orang. Hal ini dikarenakan tanaman Brassicaceae bukan tanaman asli daerah tropis, melainkan berasal dari kawasan mediterania.

Kubis (Brassica oleracea)

Pixabay

Tanaman sayuran daun dengan bentuk krop yang satu ini mungkin menjadi salah satu jenis sayuran yang paling banyak kita konsumsi. Bagaimana tidak, untuk membudidayakan tanaman kubis tergolong mudah sekaligus masa tanamnya yang pendek. Hanya dalam waktu 2-3 bulan sudah bisa dipanen hasilnya. Untuk itu banyak petani yang menanamnya, sehingga dari segi harga dan stok di pasaran cukup melimpah.

Dari segi bobot sendiri, satu krop tanaman kubis bisa mencapai 2-5 kg. Tentu dari segi bisnis cukup menguntungkan bagi para petani. Namun, ketika memasuki musim penghujan harga jualnya sering kali anjlok, karena banyak yang membudidayakan kubis dalam waktu bersamaan.

Tapi tunggu dulu, jenis kubis ungu bisa menjadi solusi diversifikasi yang patut untuk diperhitungkan. Selain langka, sayur kubis ungu mulai banyak dicari oleh konsumen kalangan menengah atas, sehingga harga jualnya jauh lebih tinggi dibanding kubis putih.

Kale (Brassica oleracea)

Pixabay

Sayuran daun yang lagi ngehits ini sering dijuluki sebagai super food. Bukannya tanpa alasan, tanaman kale memang mengandung vitamin, mineral dan antioksidan yang cukup tinggi. Itulah sebabnya banyak yang menggunakan sayur kale sebagai bahan minuman smoothie. Di mana dengan tanpa dilakukan proses pemanasan seperti di masak, maka nutrisinya tetap terjaga.

Dari segi budidaya tanaman kale bisa dibilang cukup sulit. Karena agar supaya dapat tumbuh dengan baik, tanaman ini membutuhkan kondisi lahan yang dingin dan berawan. Maka dari itu hanya lokasi dataran tinggi saja yang cocok untuk membudidayakan tanaman kale. Beberapa jenis kale yang banyak dijumpai antara lain Nero, Dwarf Curly dan Red Rusian.

Namun, ketika tanaman ini sudah dewasa, umur tanamnya cukup panjang, bahkan bisa mencapai 1 tahun lebih. Di mana untuk proses panennya berbeda dengan tanaman kubis-kubisan lainnya yang dipotong batang utamanya. Nah, pada tanaman kale untuk memanennya cukup dipotong tiap helai daun yang sudah cukup tua. Sehingga tanaman ini akan terus tumbuh ke atas.

Sawi dan Pakcoy

Hellosehat

Sama seperti halnya tanaman kubis, sawi (Brassica chinensis)  dan pakcoy (Brassica rapa) menjadi produk tanaman sayur andalan para petani. Khususnya yang tinggal di dataran tinggi atau pegunungan. Hanya dalan waktu 1-2 bulan hst, sayuran daun ini sudah bisa dipanen.

Sawi termasuk tanaman dengan sistem perakaran serabut dan dangkal. Waktu budidaya yang paling cocok ialah saat di awal musim penghujan. Tapi, agar supaya didapatkan hasil pertumbuhan yang optimal, tanaman ini membutuhkan kondisi tanah yang subur, gembur dan kaya akan bahan organik atau nutrisi. Itulah sebabnya Kita jarang menjumpai lahan budidaya sawi dan pak choy di daerah dataran rendah.

Brokoli dan Kembang Kol

Pixabay

Sayur bunga brokoli (Brassica oleracea var.italia) dan kembang kol (Brassica oleracea var.botrytis) merupakan tanaman asli daerah mediterania. Yap, bagian tanaman yang Kita konsumsi tersebut adalah bagian bunganya.

Perbedaan yang mendasar antara brokoli dan kembang kol tentu saja warna bunganya. Bunga brokoli berwarna hijau gelap dengan bobot per tangkai antara 150-300 gr, sedangkan pada kembang kol berwarna putih susu dengan berat per tangkai bisa mencapai 1 kg.

Di samping itu kembang kol lebih mudah dibudidayakan pada berbagai kondisi lingkungan, mulai dataran rendah sampai dataran tinggi. Sedangkan brokoli hanya bisa tumbuh secara optimal ketika ditanam di dataran tinggi antara 800-2000 mdpl.

Lobak (Raphanus raphanistrum)

Pixabay

Lobak menjadi satu-satunya tanaman dari keluarga brassicaceae yang menghasilkan umbi. Di mana tanaman ini hanya cocok dibudidayakan di dataran tinggi. Untuk bisa mendapatkan umbi lobak atau daikon yang bertekstur lembut dengan rasa yang sedikit manis dan tidak terlalu pahit ataupun pedas ialah kondisi tanah tempat budidaya harus kaya akan bahan organik dan bertekstur remah atau gembur.

Sedangkan untuk lobak merah atau red radish, ia termasuk tanaman berumur pendek dan harus segera dipanen saat sudah mencapai umur 30 hst. Semakin lama dibiarkan tumbuh di lahan, maka umbinya akan berkayu dan tidak dapat dimakan karena rasanya menjadi terlalu pahit. Karena lobak merah sendiri memang seringkali dikonsumsi dalam keadaan mentah dengan cara diiris tipis untuk campuran salad.