Kentang pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1874 oleh Belanda. Budidaya kentang dimulai pertama kali di Cibodas, Lembang, Pangalengan, dan Tengger. Selanjutnya di tahun 1811 kentang mulai ditanam di Pulau Sumatera, tepatnya di dataran tinggi Kerinci.

Saat ini kentang menjadi komoditas sektor pertanian hortikultura populer di Indonesia. Setidaknya ada lima provinsi yang menjadi sentra kentang yaitu Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Varietas yang umum ditanam adalah kentang granola, atlantis, cipanas, dan segunung.

Dari berbagai varietas, kentang granola memiliki permintaan pasar yang paling tinggi. Umumnya kentang ini diolah menjadi sup, perkedel, dan sambal goreng ati. Kentang Granola memiliki ciri khusus berbentuk lonjong dan berdaging kuning. Kandungan patinya rendah sedangkan airnya mencapai 80%. Teksturnya pulen dengan rasa sedikit manis. Tak heran jika kentang ini jadi yang terpopuler di masyarakat.

Potensi pasar kentang granola yang tinggi berbuah manis bagi para petani. Permintaan tinggi komoditas kentang juga dibarengi dengan tren harga positif tiap tahunnya. Saat ini harga kentang di pasaran cukup stabil yaitu berkisar Rp 20.000.

Permintaan pasar yang tinggi ternyata berbanding terbalik dengan produktivitas pertanian kentang Indonesia. Menurut Balai Penelitian Sayuran Kementerian Pertanian (Balitsa), produktivitas kentang petani Indonesia hanya 17–20 ton/hektar. Jumlah ini masih di bawah rata-rata produksi kentang negara lain yaitu 40 ton/hektar.

Faktor yang mempengaruhi rendahnya produktivitas kentang adalah kurangnya akses petani ke bibit unggul bersertifikat. Bibit bersertifikat seringkali dirasa terlalu mahal. Petani tak mampu membeli bibit kentang Karenanya petani lebih memilih untuk menyisihkan hasil panen untuk musim tanam selanjutnya.

Penggunaan bibit kentang unggul bersertifikat sangat diperlukan karena memiliki ketahanan terhadap hama dan penyakit. Selain itu bibit bersertifikat juga menghasilkan umbi yang lebih besar. Oleh sebab itu, penting sekali Bagi Petani untuk menggunakan bibit berkualitas.

Penggunaan bibit bersertifikat buruk menyebabkan kegagalan bagi Petani. Setidaknya itu cerita yang Tanijoy dapatkan dari Petani Mitra di Berastagi Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Kala itu, sebelum bergabung dengan Tanijoy, Kelompok Tani Kentang Berastagi pernah membeli bibit kentang dari Oknum yang mengaku menjual bibit kentang Dieng berkualitas. Setelah mulai masa panen ternyata sebagian mengalami kegagalan dan Petani merugi. Kejadian tersebut menjadi pengalaman berharga bagi para Petani Berastagi.

Para Petani berharap agar kejadian serupa tak terulang kembali. Anda bisa mendukung para Petani Berastagi untuk mendapatkan dukungan modal agar bisa meningkatkan produktivitas lahan dan menghasilkan kentang berkualitas lewat Tanijoy.


Artikel ini pernah dimuat di Medium Tanijoy