Pada umumnya budidaya tanaman jagung banyak dilakukan di lahan basah. Biasanya dibudidayakan pada musim penghujan antara bulan November sampai bulan April, di lahan sawah yang  kelembaban tanahnya tinggi. Namun seiring dengan berkembangnya teknologi pertanian, serta riset yang terus dilakukan, saat ini sudah tersedia benih jagung hibrida varietas unggul yang optimal di lahan kering. Selain itu, juga sudah ada penerapan teknis budidaya jagung di lahan kering dengan hasil panen yang optimal.

Salah satu lokasi di Indonesia yang telah menerapkan teknis budidaya jagung di lahan kering berada di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Budidaya ini mencapai 89% dari total lahan budidaya dan hanya 11% yang membudidayakan jagung di lahan sawah. Daerah ini dari segi luas lahan bahkan menempati urutan ke 5 setelah Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung dan Sumatera Utara sebagai penghasil jagung. Pada tahun 2018 Sulawesi Selatan membukukan hasil panen jagung sebanyak 2,3 juta ton dengan luas tanam 450.000 ha, di mana rata-rata jumlah produksi mereka 7-8 ton/ha.

Belajar dari penerapan budidaya jagung tersebut, kunci suksesnya adalah penggunaan varietas benih. Selain itu aplikasi penggunaan pupuk yang sesuai dosis serta jarak tanam dan jumlah populasi tanaman per hektarnya. Berikut ini penjelasan dari kunci-kunci sukses tersebut, untuk budidaya tanaman jagung di lahan kering.

Tanam Jagung dengan Benih Varietas Unggul

Kualitas dan penggunaan jenis benih yang tepat menjadi faktor pertama penentu keberhasilan budidaya jagung di lahan kering. Benih yang dibutuhkan yaitu yang menghasilkan tanaman berumur pendek, mampu beradaptasi pada berbagai kondisi lingkungan, mempunyai batang yang kokoh dan tidak mudah rebah, serta kandungan protein biji dan hasil produksi yang tinggi.

Penggunaan benih untuk lahan kering yang direkomendasikan adalah sebanyak 15-20 kg/ha. Beberapa varietas dagang benih jagung yang dapat tumbuh dengan baik di lahan kering antara lain ; Varietas Bima-3, Bima-4, Bima-14, Bisi-2, Bisi-16, Bisi-18, N35, SHS 11, DK77, NK99 dan Pioneer-2. Sedangkan jenis benih produksi BBI/BBU, BNPT dan penangkar lokal diantaranya varietas Lamuru, Bisma, Srikandi Kuning dan Srikandi Putih yang banyak dikembangkan di daerah NTT.

Atur Jarak Tanam untuk Hasil Jagung yang Optimal

Untuk meningkatkan produktifitas dan efisiensi tanaman dalam memanfaatkan air serta pupuk, maka atur jarak tanam pada tanaman. Rekomendasi jarak tanam untuk budidaya jagung di lahan kering adalah penggunaan jarak tanam 70x20 cm (1 tanaman/rumpun) atau 70x35 cm dengan 2 tanaman/rumpun. Hal ini mampu menghasilkan jagung dengan hasil panen tertinggi dari budidaya jagung lahan kering.

Selain jarak tanam, kita juga perlu mengatur jumlah populasi tanaman di lahan. Untuk mendapatkan hasil jagung optimal, petani bisa mengaturnya dengan membudidayakan jagung sebanyak 65.000-80.000 tanaman/ha. Hal ini biasanya mampu menghasilkan jagung sebanyak kurang lebih 8 ton/ha.  

Gunakan Pupuk dengan Tepat

Ada kasus yang menarik dari penggunaan pupuk yang tidak sesuai dengan yang dibutuhkan oleh tanaman. Lahan yang terlalu banyak diberikan pupuk anorganik NPK dapat menyebabkan penurunan hasil panen. Jadi, jangan sampai salah dalam memberi dosis pupuk.

Balai Penelitian Tanaman Serelia di Sulawesi Selatan telah melakukan penelitian. Mereka dalam hal ini menyimpulkan standar dosis optimal penggunaan pupuk untuk budidaya jagung di lahan kering. Rekomendasi yang diberikan yaitu sebesar 150-190 kg N, 47-60 kg P205 dan 33-63 kg K20/ha.

Pupuk organik juga dibutuhkan sebagai penyubur tanah sekaligus meningkatkan kandungan bahan organik yang akan meningkatkan efisiensi penyerapan pupuk anorganik yang diberikan. Dosis pupuk kandang yang diberikan dengan hasil panen yang optimal adalah sebannyak 2 ton/ha. Di daerah Maluku, penggunaan pupuk anorganik yang dikombinasikan dengan pupuk kandang telah memberikan hasil panen yang lebih baik dibandingkan dengan aplikasi pupuk tunggal NPK.

Lakukan Penanganan Hasil Panen dengan Baik

Dari seluruh tahapan proses produksi tersebut apabila tidak dilakukan penanganan hasil panen yang tepat, maka kualitasnya pun juga tidak dapat optimal. Ciri dari jagung yang sudah siap panen adalah apabila telah terbentuk lapisan hitam di ujung biji dan kulit klobot yang mengering. Kadar air harus 14-15% sesuai dengan permintaan pasar. Karena kadar air yang tinggi atau 17-20% selain kualitasnya yang rendah juga dapat menyebabkan jagung diserang hama saat berada di tempat penyimpanan.