Salah satu masalah pertanian saat ini adalah belum maksimalnya penggunaan teknologi dalam pengolahan pada lahan pertanian. Masih banyak petani yang menggunakan cara tradisional untuk mengolah lahan pertanian. Padahal dengan menggunakan teknologi dalam proses pengolahannya, bisa meningkatkan hasil pertanian secara optimal, loh!

Saat ini sudah banyak alat pertanian modern untuk memudahkan pekerjaan. Bukan dari luar negeri, alat pertanian modern ini dikembangkan di Indonesia dan sesuai dengan kebutuhan petani lokal. Beberapa diantaranya adalah drone sawah, alat pemanen kabut, dan alat irigasi pintar.

Drone Sawah

Sumber gambar: bbsdlp.litbang.pertanian.go.id

Apa yang terpikirkan saat mendengar kata drone? Kamera yang diterbangkan untuk keperluan merekam video oleh para film maker dan videografer? Ternyata drone tak sebatas untuk industri kreatif tapi juga pertanian. Bukan untuk pemetaan lahan tapi penyemprotan pestisida.

Balai Penelitian Lingkungan Pertanian Jakenan, Kabupaten Pati Jawa Tengah, adalah salah satu lembaga pemerintah yang mengaplikasikan drone sawah. Drone ini mampu melakukan penyemprotan pestisida di lahan seluas 1 hektar kurang dari 30 menit.

Untuk luasan dan waktu tempuh tersebut, drone sawah mampu menyemprot 99,05 liter pestisida. Jika dibandingkan dengan cara manual, waktu yang dibutuhkan 175 menit dengan pestisida sebanyak 142,86 liter. Jauh lebih efisien dibandingkan cara tradisional. Ada pula teknologi drone sawah yang dilengkapi dengan sensor kamera. Drone ini bisa mendeteksi hama pada lahan pertanian.

Alat Pemanen Kabut

sumber garmbar: pixabay.com

Fungsi alat ini memang unik. Memanen kabut. Apakah kabut bisa dipanen? Ternyata alat ini mampu mengubah kabut menjadi air yang bisa digunakan untuk irigasi lahan kering.

Alat pemanen kabut dikembangkan oleh sekelompok mahasiswa asal Universitas Gadjah Mada. Memanfaatkan prinsip kondensasi, kabut yang berupa uap air ditangkap menggunakan alat pemanen kabut. Alat ini kemudian mengubah uap air menjadi air.

Alat sederhana ini bisa dimanfaatkan di daerah kering yang jauh dari sumber mata air. Contohnya adalah daerah dataran tinggi. Daerah seperti ini biasanya bisa berkabut sampai siang hari.

Alat Irigasi Pintar

sumber gambar: lpik.itb.ac.id

Alat irigasi pintar ini disebut Encomotion. Alat ini biasa dijuluki kotak putih pintar ini. Ecomotion berfungsi untuk mengontrol keadaan green house pada lahan pertanian. Alat ini bekerja dengan menggunakan sensor yang peka terhadap keadaan lingkungan seperti suhu dan kelembaban.

Diciptakan oleh para peneliti dari ITB, Encomotion dapat mengontrol kebutuhan air pada lahan budidaya. Kontrol air memang penting mengingat pengaruhnya yang cukup besar pada hasil panen. Apabila pemberian air terlalu banyak ataupun sedikit, maka produktivitas panen tak akan optimal.

Alat ini sudah di uji cobakan pada lahan Kentang di Ciwidey, Bandung. Hasilnya ternyata mampu meningkatkan produksi tanaman kentang yang semula hanya 5-7 buah, menjadi 20 buah per baris lahan.

Perkembangan zaman dan teknologi tak dapat dihindari. Sektor pertanian juga perlu menyesuaikan diri. Inovasi teknologi pertanian adalah hal yang wajib. Terlebih mayoritas masyarakat Indonesia menggantungkan hidup dari sektor pertanian.

Inovasi pertanian tak sebatas perangkat keras berupa alat dan mesin yang mengandalkan internet of things (IOT). Teknologi untuk menciptakan inklusi keuangan di pertanian juga bagian dari inovasi. Contohnya adalah Tanijoy yang menghubungkan petani kecil dengan akses pendanaan dari publik melalui skema peer to peer lending (P2P).

Nah itu tadi ragam inovasi pertanian yang ada di Indonesia. Simak inovasi lainnya di tautan berikut ini.