Sejak 3000 tahun lalu, di masa Dinasti Chow, jamur tiram telah dimanfaatkan sebagai santapan spesial pejabat negara Tiongkok. Kemudian konsumsi jamur mulai menyebar ke negara Asia lainnya seperti Korea, Jepang, Taiwan, Malaysia, Myanmar, dan Indonesia. Di benua Eropa, masyarakat pedesaan Perancis mulai membudidayakan jamur tiram pada tahun 1900-an. Kini persebaran jamur tiram sudah mencakup banyak negara dan Tiongkok menjadi salah satu eksportir terbesar di dunia.

Jamur dikenal sebagai sumber bahan pangan bergizi tinggi dan rasanya yang lezat. Nilai gizi jamur tiram hampir sama dengan telur ayam apabila dilihat dari kandungan asam amino didalamnya. Tak hanya sampai di situ, pembudidayaan jamur yang murni organik menjadi salah satu alasan mengapa jamur disukai kalangan pecinta makanan sehat.

Produksi Jamur di Indonesia

Perkembangan usahatani jamur di Indonesia dimulai pada tahun 2003. Produksinya didominasi oleh jamur tiram. Berdasarkan jumlah produksi, ada 4 provinsi yang kini menjadi produsen jamur terbesar. Keempat provinsi tersebut antara lain Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur.

Di kelompok hortikultura, jamur termasuk salah satu komoditas yang berkontribusi besar pada devisa negara. Jamur dari Indonesia dikenal memiliki penggemar setia di Tiongkok, Korea, dan Singapura. Pada tahun 2017, nilai ekspor jamur ada di peringkat ke-2 dengan berat bersih 0.29 ribu ton atau USD 1.08 juta. Pada posisi pertama ditempati bawang merah dengan nilai USD 8.81 ton dan posisi ketiga kentang senilai USD 0.98 juta.

Produksi jamur dalam negeri dari tahun 2013-2017 dijelaskan dalam gambar berikut:

Meskipun hasil produktivitas jamur terbilang cukup tinggi, nyatanya Indonesia baru mampu memasok 0.9% dari kebutuhan jamur dunia. Menurut FAOStat pada 2016, produksi jamur dunia mencapai 10.790.859 ton. Lima negara produsen terbesar adalah China, Italia, USA, Belanda, Polandia. Sedangkan produksi jamur Indonesia baru menduduki peringkat ke 15 dunia.

Lain dengan permintaan dari luar negeri yang terbilang tinggi, ternyata konsumsi jamur dalam negeri hanya 0.18 kg/kapita per tahun. Angka ini jauh lebih rendah dari tingkat konsumsi jamur di Jepang dan Singapura yang mencapai lebih dari 1kg/kapita per tahun. Sedangkan Eropa rata-rata mencapai 1.5kg/kapita per tahun.

Peluang Besar Bisnis Jamur

Seperti pemaparan di atas, peluang usahatani jamur cukup besar. Pasar yang terbuka lebar jadi salah satu alasan utamanya. Namun selain perkara pasar, cara budidaya juga menentukan.

Jamur sangat cocok dibudidayakan di daerah sejuk. Namun jamur ternyata juga bisa dibudidayakan di iklim panas. Syarat pembudidayaan jamur di daerah panas adalah dengan menjaga tingkat kelembaban ruangan tempat budidaya jamur.

Untuk memulai usahatani jamur hanya diperlukan bibit jamur tiram, baglog, kumbung, dan termometer. Menurut bisnis.com, untuk budidaya 1000 baglog jamur tiram hanya memerlukan modal usaha sebesar Rp1.56 juta. Nilai ini terdiri dari modal pembuatan rak Rp377.000 beserta termometer dalam kumbung. Rp1.188.500 untuk operasional meliputi pembuatan baglog, bibit, hingga biaya pemasaran.  

Apabila dari 1000 baglog memiliki risiko gagal panen 15%. Setiap baglog menghasilkan 0,5 kg setiap panen dan harga jamur tiram Rp12.000 per kg. Total omzet yang bisa diraih mencapai total Rp5,1 juta. Sungguh peluang usaha yang sangat menjanjikan bukan?