Tanaman kubis meskipun terkenal mudah untuk dibudidayakan, namun ternyata juga sangat digemari oleh hama perusak tanaman. Khususnya dari jenis serangga pemakan daun, yang dampak dari serangannya terbilang cukup parah. Namun, kehadiran hama tersebut tetap bisa ditangani, baik secara biologis dengan menggunakan agensia hayati, maupun secara kimiawi dengan pestisida organofosfat.

Di dalam melakukan aktifitas budidaya pertanian memang tidak bisa terlepas dari resiko kerusakan tanaman yang diakibatkan oleh hama. Memang sebenarnya kedatangan hama ini merupakan kejadian yang alami, hanya saja jika tidak dikendalikan dapat merebak dan menyebabkan gagal panen.

Langkah Pencegahan Serangan Hama

Sebenarnya ada langkah pencegahan yang bisa dilakukan sebelum terjadinya serangan hama pada tanaman kubis, yaitu dengan menanam refugia dan melakukan rotasi tanaman.

Penanaman Refugia

Tanaman refugia berupa aneka bunga-bungaan tersebut akan menyediakan polen dan nektar yang dibutuhkan oleh predator dan parasitoid. Serangga tersebut nantinya juga memangsa dan menjadikan hama khususnya ulat sebagai inang tempatnya bertelur.

Melakukan Rotasi Tanaman

Dengan selalu menggilir atau mengganti jenis tanaman yang dibudidayakan di suatu petak lahan, maka keanekaragaman organisme penghuninya menjadi lebih kompleks. Akibatnya tidak akan terjadi ledakan populasi satu atau dua jenis organisme, khususnya dari jenis hama perusak tanaman.

Jenis tanaman yang masih satu kerabat dengan kubis (Brassicaceae) di antaranya; sawi, kembang kol, brokoli dan lobak. Untuk itu, apabila sebuah lahan sudah ditanami aneka Brassicaceae, sebaiknya pada musim tanam berikutnya diganti dengan jenis yang lainnya.

Nah, apa saja jenis hama yang menyerang tanaman kubis? dan bagaimanakah cara mengatasinya?

Ulat Jengkal (Trichoplus ni)

Ulat berwarna hijau yang cara bergeraknya dengan melekukkan bagian belakang tubuhnya ini merupakan hama pemakan daun muda dan tua tanaman kubis. Setelah dewasa ia akan menjadi ngengat, di mana setiap kali bertelur bisa memproduksi sebanyak 500 butir telur.

Dengan jumlah telur yang sebanyak itu, dalam waktu singkat ulat jengkal bisa menimbulkan kerusakan pada tanaman kubis dengan cukup parah. Tidak jarang lahan kubis akan beresiko gagal panen bila kehadiran ulat jengkal ini tidak segera ditangani.

Sedangkan untuk penanganan secara konvensional bisa dengan menggunakan pestisida yang berbahan aktif Carbaryl (Sevin), Permethrin, Pyrethrins, Cyfluthrin dan Spinosad.

Ulat Kubis (Plutella xylostella)

Hama ulat plutella bisa merupakan jenis hama yang paling banyak menyerang tanaman kubis dewasa. Warnanya hijau muda dengan panjang ukuran tubuh sekitar 0.5-1 cm. Siklus hidupnya sendiri berkisar antara 10-14 hari, di mana saat dalam stadium larva ia akan terus memakan daun muda maupun tua pada bagian titik tumbuhnya.

Serangan ulat plutella sering kali mendadak dan sulit diprediksi. Hal ini dikarenaka ngengat dewasa diamonback akan meletakkan telur-telurnya di bagian bawah daun. Sehingga seringkali kerusakan yang diakibatkan oleh larva-larva yang telah menetas sifatnya mendadak.

Sama seperti halnya hama ulat jengkal, ulat plutella bisa dibasmi secara biologis dengan menggunakan bakteri Bacillus thuringiensis. Sedangkan untuk penanganan secara kimiawi sebenarnya kurang direkomendasikan. Karena sekarang ini banyak penelitian yang menunjukkan bahwa ulat plutella mulai resistan terhadap pestisida kimiawi organofosfat.

Untuk itu, solusi yang paling ampun untuk mengurangi dampak serangan hama ulat plutella adalah dengan pencegahan sedini mungkin, dengan menanam refugia dan menggunakan prinsip budidaya polikultur maupun tumpang sari.

Ulat Tanah (Agrotis ipsilon)

Bagi yang pernah menanam kubis atau brokoli pasti pernah mengalami kematian tanaman secara mendadak. Biasanya tanaman yang masih muda atau baru saja pindah tanam ke lahan terlihat terkulai dengan kondisi pangkal batangnya patah. Nah, itu merupakan pertanda dari serangan ulat tanah.

Ulat tanah aktif di malam hari, di mana sepanjang harinya bersembunyi di dalam tanah. Ketika malam tiba ia akan muncul dari persembunyian dan memulai aksinya, yaitu memakan pangkal batang tanaman muda. Ngengat ulat tanah sendiri bisa menghasilkan ribuan telur. Itulah sebabnya serangan hama ulat tanah tergolong ganas dan menimbulkan kerugian besar di awal musim tanam.

Tapi jangan khawatir, ulat ini cukup mudah dibasmi. Salah satu solusi yang paling mudah ialah dengan melakukan rotasi tanaman. Namun apabila lahan masih terlihat ada tanda-tanda keberadaan ulat ini, maka bisa diatasi secara kimiawi. Gunakan pestisida bernahan aktif carbofuran. Taburkan pestisida ini di permukaan tanah di sekitar tempat persembunyian ulat tanah, biasanya ditandai dengan lubang kecil di dekat pangkal tanaman.