Ketika membudidayakan tanaman tomat, resiko kerugian seperti gagal panen akibat serangan penyakit mungkin saja bisa terjadi. Bahkan pada kasus tertentu kerusakan yang diakibatkan oleh penyakit dapat mencapai 100%. Maka dari itu, supaya budidaya tomat yang dilakukan menghasilkan keuntungan, perlu kiranya memahami jenis penyakit yang berpotensi merusak tanaman tomat sekaligus cara mengatasinya.

Tomat merupakan tanaman buah-buahan dari keluarga solanaceae, yaitu masih berkerabat dekat dengan tanaman terong, kentang, paprika dan cabe. Di mana seluruh tanaman dari keluarga solanaceae ini memiliki potensi untuk terjangkit penyakit yang sama, atau biasa disebut dengan istilah tanaman inang.

Nah, salah satu tindakan pencegahan dari serangan penyakit yang paling mudah dan efisien ialah melakukan rotasi tanaman. Yaitu selalu mengganti jenis keluarga tanaman berbeda yang akan dibudidayakan di suatu petak lahan. Dengan begitu organisme yang hidup di lahan tersebut lebih beraneka ragam, sehingga tidak akan terjadi ledakan populasi organisme penyebab penyakit pada tanaman yang dibudidayakan. Namun, apabila tanaman tomat sudah terlanjur terserang penyakit, maka perlu kiranya untuk segera ditangani.

Layu Bakteri

LSU AgCenter

Serangan bakteri Ralstonia solanacearum pada tanaman tomat tergolong cukup mengkhawatirkan. Hal ini dikarenakan tanaman yang terjangkit oleh bakteri Ralstonia tidak menunjukkan gejala sakit seperti daun yang menguning atau bintik-bintik coklat. Sebaliknya, daun yang masih hijau secara tiba-tiba akan mati terkulai.

Biasanya penyakit ini menyerang pada tanaman solanaceae yang ditanam di musim hujan. Yaitu ketika kelembaban udaranya tinggi disertai dengan suhu udara yang hangat. Yang perlu diperhatikan adalah bakteri Ralstonia solanacearum bisa bertahan hidup di tanah dalam keadaan dorman tanpa inang selama 2 tahun.

Pengendalian serangan layu bakteri bisa dilakukan melalui perbaikan sistem drainse, aplikasi pupuk nitrogen yang sesuai takaran, menggunakan benih dari varietas yang toleran, memusnahkan tanaman yang terinfeksi, serta penggunaan obat bakterisida Dazomet, Streptomycine sulfat dan Asam Oksolinik.

Layu Fusarium

Koppertus

Penyakit layu fusarium disebabkan oleh jamur Fusarium ongysporum, dan hanya bisa dikendalikan secara alami. Sama seperti halnya layu bakteri, penyakit fusarium muncul ketika kondisi lingkungan budidaya terlalu lembab dan hangat. Selain itu, lahan yang secara terus menerus digunakan untuk budidaya tanaman dari keluarga solanaceae dapat berpotensi besar terinfeksi oleh jamur ini.

Gejala awal yang bisa terlihat diantaranya cabang bagian bawah tanaman terlihat layu, daun yang masih muda mulai menguning, lama kelamaan akan merembet ke atas, hingga seluruh bagian tanaman layu dan kemudian mati.

Penyakit ini bisa dicegah penyebarannya dengan aplikasi jamur Trichoderma dan bakteri Streptomyces griseoviridis ke tanah. Kedua jenis organisme ini dapat menekan pertumbuhan jamur fusarium yang tumbuh di tanah.

Bercak Kering Alternaria (Early Blight)

UMN Extension

Sesuai dengan namanya, serangan penyakit yang satu ini ditandai dengan bercak kecoklatan berbentuk bulat pada bagian daun tanaman. Biasanya yang pertama kali terjangkit adalah pada kanopi paling bawah. Nantinya bercak tersebut terus melebar hingga keseluruhan daun menjadi coklat dan mati. Buka hanya bagian daun, penyakit ini juga akan menyerang batang dan buah tomat.

Penyakit bercak kering disebabkan oleh jamur Alternaria tomatophila dan A. solani. Tanaman tomat yang dibudidayakan di dalam greenhouse sangat rentan terserang oleh penyakit ini. Selain itu, ketika jarak tanam yang digunakan tidak ideal atau terlalu berdempetan, serta cabang yang tumbuh tidak diatur, maka sirkulasi udara yang buruk dapat menambah tinggi presentase munculnya penyakit jamur Alternaria.

Solusi penanganan untuk penyakit yang disebabkan oleh cendawan ini pertama-tama adalah mencabut dan memusnahkan tanaman tomat yang terserang. Sedangkan untuk pencegahan bisa dilakukan dengan cara menggunakan benih yang resistan dan bersertifikat. Kemudian jaga supaya sirkulasi udara di lahan tetap terjaga dengan cara membersihkan lahan dari gulma, lakukan juga pemangkasan pada cabang air yang terlalu rimbun.

Bagi yang membudidayakan tanaman tomat secara organik, tersedia pula pilihan pengendalian jamur Alternanaria menggunakan biofungisida yang mengandung bakteri Bacillus subtilis dan Pseudomonas fluorescens. Atau bisa juga dengan aplikasi fungisida berbahan aktif Tembaga hidroksida (Copper hydroxide).

Apabila kerusakan sudah mencapai 25% dari keseluruhan tanaman, maka sebaiknya aplikasikan fungisida kimia konvensional yang berbahan aktif dimetomorf, karbendazim, ziram, mancozeb atau benomil.

Virus Mosaik

Osu.edu

Tomato Mosaic Virus (ToMV) merupakan jenis penyakit yang disebabkan oleh pathogen virus dari genus tobamovirus. Di mana virus ini juga menyerang jenis tanaman lain seperti tembakau dan kacang-kacangan. Nah, ciri-ciri serangan virus ini antara lain warna daun muda yang menguning dan mengeriting. Tanaman menjadi kerdil. Buah tomat berwarna kekuningan dan produktifitas tanaman menurun hingga 23%.

Penyakit tanaman yang diakibatkan oleh virus ini termasuk salah satu yang paling mengkhawatirkan. Hal ini dikarenakan virus ini berbeda dengan penyakit yang disebabkan oleh jamur, sehingga belum ada obat atau bahan kimia yang bisa menangani serangan virus ToMV. Bahkan virus ini dapat bertahan hidup selama 50 tahun.

Pencegahan yang terbaik supaya lahan tidak terinfeksi oleh virus ini adalah dengan menggunakan benih yang bebas virus, merendam benih ke dalam larutan trisodium phosphate (Na3PO4) selama 15 menit, selalu membersihkan peralatan pertanian setelah digunakan, hindari penggunaan produk tembakau untuk pestisida pada tanaman tomat, serta membakar tanaman yang terserang penyakit ToMV.