Upaya untuk meningkatkan hasil panen pada tanaman jagung salah satunya adalah dengan mengendalikan serangan penyakit. Hal ini dikarenakan dampak kerusakan yang bisa diakibatkan oleh penyakit cukup mengkhawatirkan. Untuk itu, supaya kerugian berupa gagal panen bisa dicegah, perlu kiranya memahami gejala munculnya penyakit pada tanaman jagung sekaligus cara mengendalikannya.

Nah, supaya produksi jagung bisa terus memenuhi kebutuhan domestik dalam negeri, maka dalam membudidayakan jagung harus mengikuti kaidah teknis pertanian yang baik, serta mengetahui jenis penyakit penting yang sering menyerang jagung.

Penyakit Bulai (Downey Mildew)

Penyakit pada tanaman jagung yang masih muda yakni bulai atau downey mildew. Penyakit ini disebabkan oleh jamur Peronosclerospora maydis dan Peronosclerospora philippinensis. Selain di Indonesia, penyakit bulai juga tersebar di banyak negara lainnya, mulai Amerika, Afrika, Eropa, Australia dan Asia lainnya seperti India, Thailand dan Filipina. Oleh sebab itu, penyakit bulai menjadi tantangan utama para petani jagung.

Ciri dari serangan penyakit bulai mirip dengan tanaman yang kekurangan nitrogen, yakni munculnya warna kekuningan atau khromatik di bagian daun tanaman sepanjang tulang daun. Akibat yang ditimbulankan oleh penyakit bulai antara lain terhentinya pertumbuhan tanaman dan menjadi kerdil. Bahkan, di Indonesia sendiri dampak serangan penyakit bulai bisa mengakibatkan kehilangan hasil panen hingga 100% atau puso.

Aktifitas pencegahan yang paling efektif salah satunya dengan menggunakan benih tahan penyakit bulai. Varoetas jagung tahan bulai antara lain; Bima 1, Bima 3, Bima 9, Bima 14, Bima 15, Bima 16, Bima 17, Bima 18, Gumarang, Lagaligo, Lamuru, Srikandi dan Sukmaraga. Selain itu, aktifitas rotasi tanaman juga bisa memutus rantai penyebaran penyakit ini. Sedangkan pengendalian secara kimiawi bisa menggunakan fungisida dengan baha aktif metalaksil pada benih dengan dosis 2 gr/kg benih.

Hawar Daun

Bagi Anda yang pernah melihat adanya bercak kebasahan berukuran kecil dengan bentuk oval pada daun yang tua, maka bisa dipastikan tanaman jagung tersebut terserang hawar daun. Nantinya bercak tersebut akan membesar berbentuk elips dan menjadikan daun tanaman jagung mengering.

Apabila tidak segera ditangani, penyakit yang disebabkan oleh jamur Helminthosporium turcicum dan Trichometasphaeria turcica dapat meluas dan menginfeksi daun muda. Seiring waktu, seluruh bagian tanaman akan mati mengering dan seperti terbakar. Tingkat kerusakannya bisa mencapai 50%.

Penyakit hawar daun biasa muncul ketika kelembaban udara sangat tinggi serta suhu udara yang cukup panas. Di mana konidia jamur ini bisa dengan mudah menyebar ketika tertiup angin. Salah satu kendala sulitnya mengatasi penyakit ini adalah kemampuannya dalam bertahan hidup di tanah selama satu tahun. Untuk itu penting kiranya melakukan pergiliran tanaman, yakni tidak membudidayakan jagung di lahan yang sama sepanjang tahun.

Ada beberapa langkah yang bisa dilakuka untuk mencegah serangan penyakit hawar daun, di antaranya menanam jagung di awal musim kemarau, menggunakan benih yang tahan penyakit seperti Kalingga, Arjuna, dan Hibrida Cl, serta aplikasi pupuk KCL di awal pertumbuhan tanaman. Sedangkan penanganan secara kimiawi bisa dengan aplikasi fungisida sistemik atau dungisida nabati yang mengandung Pseudomonas fluorescens dan Paenibacillus polymyxa yang bersifat racun bagi jamur hawar daun.

Busuk Batang dan Tongkol

Penyakit busuk batang dan tongkol disebabkan oleh jamur Diplodia maydis. Jamur ini biasa muncul ketika memasuki musim kemarau yang kering. Penyakit busuk batang menyerang tanaman yang sudah memasuki fase pembentukan tongkol secara tiba-tiba. Di mana tanaman jagung yang terinfeksi akan mendadak mati, dengam kondisi daun yang layu, kering, dan tampak berwarna hijau keabu-abuan. Apabila bagian batangnya dibelah akan terlihat kopong dan seratnya mudah hancur.

Terjadinya infeksi jamue Diplodia dimulai dari pangkal batang. Lama-kelamaan jamur akan masuk ke dalam jaringan batang hingga pangkal tongkol jagung. Salah satu penyebab yang bisa memicu munculnya penyakit busuk batang dan tongkol pada jagung yakni penanaman yang terlalu rapat. Sehingga sirkulasi udara menjadi buruk.

Untuk itu, agar supaya tanaman jagung tidak mudah terkena serangan jamur Diplodia maydis, aturlah jarak tanam yang sesuai. Berikan pupuk yang sesuai takaran, khususnya KCL, yang mampu meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan penyakit. Serta selalu gunakan benih yang tahan penyakit Diplodia, seperti BISI-1, BISI-4, Pioner -8,10, 12, 13, Semar-9, Palakka.

Penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan Jamur antagonis Trichoderma spp bisa mengendalikan penyakit busuk batang ini. Sedangkan untuk penanganan secara kimiawi gunakan fungisida dengan bahan aktif Mankozeb dan Sidazeb.