Tomat merupakan salah satu komoditas penting untuk pasar dalam negeri. Komoditas tomat banyak dimanfaatkan untuk pengolahan makanan dan minuman bahkan industri kosmetik. Luasnya pemanfaatan komoditas tomat menjadikan permintaan pasar sangat tinggi. Saat ini tomat menjadi komoditas hortikultura populer ke-5 di bawah cabai, bawang merah, kentang, dan kubis.

Potensi Produksi Tomat yang Besar

Menurut Australian Centre for International Agricultural Research tahun 2013, ada sekitar 50.000–60.000 hektar lahan tomat yang panen tiap tahunnya. Provinsi Jawa Barat memasok sepertiga produksi tomat nasional disusul Sumatera Utara dan Jawa Tengah.

Produksi tomat mengalami kenaikan hingga 50% antara tahun 2007–2011. Jawa Barat dan Bali menjadi daerah yang paling produktif di Indonesia. Walaupun sebenarnya gap tingkat produktivitas dalam negeri masih kalah jauh dengan negara-negara penghasil tomat lainnya. Posisi Indonesia saat ini menempati peringkat ke-21 sebagai negara produsen tomat.

Harga Tomat Sepanjang Tahun Cenderung Fluktuatif

Berdasarkan data BPS, harga tomat rata-rata per 100 kg sebesar Rp 726.757 dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Harga tomat cenderung fluktuatif selama setahun. Harga rata-rata tertinggi ini biasanya dicapai menjelang bulan puasa dan awal tahun sedangkan bulan lainnya cukup sulit diprediksi.

Sebagai contoh di Jakarta, pada akhir tahun 2017 lalu harga tomat sempat mencapai Rp 15.000 padahal harga rata-rata biasanya Rp 12.000. Harga di Pasar Induk Kramat Jati sendiri kala itu memang mengalami kenaikan sehingga mempengaruhi kenaikan harga di pasar-pasar lain. Awal Oktober ini, harga tomat mencapai Rp 10.000 naik dari bulan September sebesar Rp 9.000.

PR untuk Memperbaiki Rantai Distribusi Tomat

Data Food Agriculture Organization menggambarkan bahwa ekspor tomat Indonesia bergerak secara fluktuatif dari 2009–2013. Ekspor tomat tertinggi pernah dicapai Indonesia pada tahun 2011 sebanyak 675 ton.

Panen tomat di Indonesia memang cenderung surplus, makanya Pemerintah selalu mendorong ekspor komoditas ini. Namun tak berarti bahwa para Petani tomat selalu menikmati hasil manis.

Sekitar 3 tahun lalu, media massa sempat gencar memberitakan ramainya Petani membuang hasil panen. Kala itu harga tomat memang sangat rendah hanya Rp 500 per kilogram karena surplus pasokan di pasar. Jika Petani masih nekad untuk menjual tomat, maka akan memakan banyak biaya lagi. Membiarkan hasil panen membusuk jadi pilihan terakhir.

Distribusi memang menjadi masalah bagi para Petani Tomat. Para memiliki keterbatasan untuk mengakses pasar mengingat biayanya yang relatif besar dan kepastian harga yang kompetitif. Resiko seperti ini belum bisa ditanggung penuh oleh Petani.

Tanijoy paham bahwa rantai pasok sangat penting untuk diperbaiki. Maka dari itu Tanijoy membantu Petani Mitra untuk menjalin kesepakatan dengan buyer di Pasar Induk sebelum membuka proyek investasi kepada publik. Jadi Petani Mitra tak akan kebingungan ke mana menjual hasil panen agar mendapat harga kompetitif.Dengan pendampingan dari Field Manager, dan pengalaman Petani Mitra potensi keuntungan usahatani tomat akan sangat tinggi di masa panen nanti.

Jangan ketinggalan untuk mengambil peluang investasi proyek tomat bersama Petani Mitra Tanijoy di Desa Sukawangi, Bogor. Klik investasi.tanijoy.id sekarang juga untuk mengamankan slot investasi anda sebelum kehabisan.

*Artikel ini juga dipublikasikan di Medium Tanijoy