Hama dan penyakit tanaman merupakan ancaman tersendiri bagi para petani, termasuk dalam proses budidaya kentang. Nah, salah satu penyakit yang biasa menyerang adalah penyakit layu. Tanaman bisa layu mendadak. Di dalam gudang penyimpanan, terjadi pembusukan kentang yang membuatnya mengering dalam waktu singkat, sekaligus kerusakan benih kentang sesaat setelah dilakukan penanaman di lahan.

Penyakit layu bisa disebabkan oleh bakteri, bisa juga oleh jamur. Tapi kali ini yang dibahas adalah penyakit layu yang disebabkan oleh jamur fusarium Sp. Di luar negeri dikenal dengan nama penyakit fusarium dry rot. Selain di Indonesia, penyakit ini rupanya sudah menjadi perhatian yang sangat serius di seluruh dunia. Sebab serangannya bisa pada benih yang menyebabkan kegagalan panen, maupun sesaat setelah panen di dalam gudang penyimpanan.

Cendawan Fusarium spp bertahan hidup di tanah dalam waktu yang lama. Sumber infeksi pertamanya berasal dari umbi yang terluka (terkelupas kulitnya) saat dilakukan proses panen. Luka pada kulit kentang tersebut menjadi jalan masuk bagi jamur untuk menginfeksi umbi. Hal ini kemudian berujung pada terjadinya infeksi kedua yang disebabkan oleh soft rot bacteria (Pectobacterium spp).

Ada juga kasus penyebaran penyakit layu fusarium saat dilakukan proses penanaman benih kentang di lahan. Beberapa petani yang melakukan pemotongan pada benih umbi kentang, meskipun sudah diberikan perlakuan fungisida seperti fludioxonilatau thiabendazole tetap berisiko tinggi terinfeksi. Beberapa jenis cendawan fusarium spp konon dapat kebal atau resisten terhadap fungisida dan akan langsung menginfeksi umbi yang terkelupas kulitnya dengan tanah.

Serangan Layu Fusarium Begitu Singkat dan Mendadak

spudsmart.com

Untuk mengamati serangan ini, perhatikan umbi di gudang penyimpanan yang terluka (terkelupas kulitnya). Apabila terjadi pembusukan akan ditandai dengan spot hitam bulat pada kentang. Luka tersebut pada mulanya akan menjadi keriput berwarna hitam kecoklatan. Lama kelamaan pembusukan akan meluas, hingga kemudian tumbuh serabut jamur berwarna keputihan. Selama proses infeksi berlangsung, umbi akan berongga dan membusuk. Dalam waktu singkat, ukuran umbi kentang pun menjadi susut dan mengering.

Setidaknya ada 5 jenis cendawan penyebab layu fusarium pada kentang, yaitu Fusarium oxysporum, Fusarium coeruleum, Fusarium sulphureum, Fusarium avenaceum dan Fusarium culmorum dimana perbedaan serangannya adalah warna serabut jamur yang dihasilkan.

Kendalikan Penyakit Layu Fusarium dengan Menjaga Kebersihan Penyimpanan Gudang dan Tanah Subur yang Sehat

knowmoregrowmore.com

Karena jamur cendawan dapat hidup di tanah dalam waktu yang lama, maka penting kiranya untuk memastikan kulit umbi benih tidak terluka saat proses penanaman dilakukan. Selalu gunakan benih yang bersertifikat, dan pastikan tidak ada benih yang terkelupas kulitnya.

Sebelum pengadaan benih, bersihkan ruang gudang penyimpanan dengan menggunakan disinfektan. Lakukan sortasi pada benih yang baru diterima. Sisihkan dan musnahkan benih  yang terluka atau terkelupas kulitnya.

Untuk mengatasi tumbuhnya cendawan di lahan, pastikan tanah tempat budidaya memiliki kondisi tanah yang gembur dengan sistem drainase yang baik, karena genangan air di lahan dapat menjadi tempat tumbuhnya cendawan dalam waktu singkat.

Pencegahan dapat juga dilakukan secara biologis, yaitu menggunakan jamur-jamur saprofit yang bersifat antagonis diantaranya fungi mikoriza arbuskula (FMA). Selain itu Streptomycesspp juga dapat menghambat pertumbuhan miselium Fusarium sebesar 80-89%. Mikroorganisme lain yang juga antagonis terhadap fusarium adalah Trichoderma viresens T, yang bahkan mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman.

Jangan lupa juga untuk rutin melakukan rotasi tanaman di lahan. Penanaman kentang maupun keluarga tanaman Solanum yang dilakukan seara terus menerus sepanjang tahun dapat menjadi penyebab menyebarnya cendawan Fusarium.

Tanah yang subur juga menjadi kunci yang secara tidak langsung bisa menekan berkembangnya penyakit tanah yang disebabkan oleh si Fusarium Sp. Ketika tanah subur, maka keanekaragaman mikroorganisme penghuninya pun juga lebih beragam, sehingga tidak akan terjadi dominasi pertumbuhan mikroorganisme penyebab penyakit tanah.