Selain investasi saham konvensional, inventasi saham syariah kini menjadi salah satu alternatif pilihan masyarakat untuk menyalurkan penghasilannya. Penting untuk dipahami bahwa investasi syariah ini tidak terbatas hanya bisa dilakukan oleh umat Islam saja. Masyarakat yang berasal dari berbagai latar belakang ras, agama, atau suku dapat berinvestasi pada berbagai produk investasi syariah. Oleh karena itu, investasi syariah bersifat universal dan dapat diikuti siapa saja.

Ditambah lagi, tren investasi syariah yang cenderung meningkat sejak lima tahun terakhir menjadikan jenis investasi ini diminati masyarakat. Produk investasi syariah pun semakin beragam dari saham syariah, sukuk, reksadana syariah hingga investasi syariah. Ditambah lagi modal yang dapat ditanamkan dalam investasi ini cenderung terjangkau. Risiko investasi ini pun lebih kecil dibandingkan dengan investasi konvensional. Hal ini disebabkan investasi syariah memiliki syarat yang lebih ketat dalam pengelolaan keuangan dibandingkan investasi konvensional.

Walaupun begitu, prinsip kehati-hatian tetap perlu dimiliki oleh para calon investor sebelum menyalurkan dananya saat berinvestasi. Berikut dua tips mudah yang bisa Anda lakukan sebelum berinvestasi pada produk-produk saham syariah menurut OJK dan Pasar Modal Syariah.

Pilah dan Pilih Usaha yang Dijalankan

rawpixel.com

Sebelum menyalurkan uang yang dimiliki, sebaiknya calon investor mulai melakukan pemilahan dan pemilihan jenis usaha yang akan diberikan investasi. Pastikan jika usaha atau bisnis yang hendak dijadikan target investasi:

  • Tidak memproduksi barang atau mendistribusikan barang haram atau merusak moral
  • Tidak menjalankan usaha perjudian
  • Tidak mengandung unsur ketidakpastian dalam akad yang dilakukan, baik mengenai kualitas atau kuantitas objek akad maupun mengenai penyerahan objek tersebut (gharar); tidak mengandung riba, dan judi (maisir)
  • Tidak memperdagangkan produk-produk yang dilarang oleh agama maupun hukum

Tidak Melanggar Delapan Prinsip Investasi Syariah

pixabay

Setelah Anda memilih dan memilah usaha atau bisnis yang ingin diinvestasikan, Anda dapat menggunakan tips yang kedua yaitu pastikan investasi yang dipilih memiliki kegiatan yang tidak melanggar prinsip-prinsip investasi syariah. Mengacu pada fatwa DSN-MUI, berikut delapan prinsip investasi syariah yang harus ditaati:

  • Terhindar dari tadlis yaitu menyembunyikan kecacatan objek akad yang dilakukan
  • Terhindar dari taghrir yaitu upaya memengaruhi orang lain, baik dengan ucapan maupun tindakan yang mengandung kebohongan, agar terdorong untuk melakukan transaksi;
  • Terhindar dari tanajusy/najsy yaitu tindakan menawar barang dengan harga lebih tinggi oleh pihak yang tidak bermaksud membelinya, untuk menimbulkan kesan banyak pihak yang berminat membelinya;
  • Terhindar dari ihtikar yaitu membeli suatu barang yang sangat diperlukan masyarakat pada saat harga mahal dan menimbunnya dengan tujuan untuk menjualnya kembali pada saat harganya lebih mahal;
  • Terhindar dari Ghisysy yang digolongkan sebagai salah satu bentuk tadlis; yaitu penjual menjelaskan/memaparkan keunggulan/keistimewaan barang yang dijual serta menyembunyikan kecacatannya
  • Terhindar dari Ghabn yaitu ketidakseimbangan antara dua barang (obyek) yang dipertukarkan dalam suatu akad, baik segi kualitas maupun kuantitasnya;
  • Terhindar dari Bai’ al-Ma’dum yaitu jual beli yang obyek  (mabi’)-nya tidak ada pada saat akad, atau jual beli atas barang (efek) padahal penjual tidak memiliki barang (efek) yang dijualnya;
  • Terhindar dari Riba yaitu tambahan yang diberikan dalam pertukaran barang-barang ribawi (al-amwal al-ribawiyah) dan tambahan yang diberikan atas pokok utang dengan imbalan penangguhan pembayaran secara mutlak;

Dua langkah di atas dapat diterapkan ketika Anda memilih untuk berinvestasi pada saham syariah. Hal ini dilakukan untuk menghindari produk dan instrumen investasi yang berlabel syariah, tetapi ternyata dalam prosesnya melanggar prinsip-prinsip syariah itu sendiri. Hal inilah yang akan mengurangi keberkahan dalam berinvestasi.


Sumber:

Pasar Modal Syariah & Otoritas Jasa Keuangan. Mengenal Pasar Modal Syariah. Jakarta