Kentang merupakan tanaman prioritas riset dan pengembangan dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian. Tak heran karena kentang merupakan salah satu komoditas penting dan potensinya sangat besar untuk pasar ekspor ke Malaysia dan Singapura.

Budidaya kentang butuh varietas benih yang unggul. Tanpa varietas benih yang unggul, keberhasilan budidaya kentang tidak akan optimal. Memang, kualitas benih berpengaruh 60% pada kesuksesan budidaya.

Varietas kentang granola asal Jerman menjadi varietas tersukses di Indonesia. Kentang ini cocok untuk konsumsi egar dan kurang cocok untuk produk olahan. Varietas yang ditanam sebagai produk olahan adalah varietas Atlantik dari Amerika.

Varietas Granola L

Photo by Lars Blankers / Unsplash

Kentang varietas Granola merupakan salah satu kentang unggulan yang dibudidayakan Tanijoy bersama Mitra Tani di Sumatera Utara dan Jawa Tengah. Varietas ini mampu menghasilkan panen besar. Setiap 1 ha lahan setidaknya bisa menghasilkan umbi sebanyak 26,5 ton. Umbi kentang Granola sendiri berbentuk oval, dengan warna kulit kuning sampai putih dan bermata dangkal. Sedangkan warna daging kentang ini berwarna kuning.

Berkat terus meningkatnya produktifitas benih kentang Granola, terhitung sejak tahun 2018 Pemerintah sudah tidak lagi melakukan impor jenis kentang sayur. Hal ini dikarenakan kenaikan produksi kentang sayur mencapai 2% sekitar 1,18 juta ton dibandingkan tahun 2017 yang sebanyam 1,16 juta ton.

Tanaman kentang varietas Granola sendiri memiliki umur tanam 100-115 hari, dengan tinggi tanaman 65 cm. Di mana luas areal tanam varietas ini mencapai 80-90% dari total keseluruhan jenis kentang sayur yang dibudidayakan di Indonesia. Selain umur tanamnya yang tergolong pendek serta produktifitasnya yang tinggi, kentang varietas Granola juga tahan serangan penyakit PVA (Potato Virus A) dan PVY (Potato Virus Y).

Varietas Atlantik Lokal Median

potatoes
Photo by Hai Nguyen / Unsplash

Salah satu varietas kentang yang juga paling banyak serapannya yakni kentang Atlantik. Varietas ini banyak digunakan untuk bahan baku camilan kripik kentang. Namun budidaya kentang varietas Atlantik lokal baru bisa memenuhi 25% dari total kebutuhan dalam negeri, sedangkan 75% di antaranya masih mengandalkan kentang atlantik impor.

Bahkan nilai impor kentang atlantik untuk industri olahan makanan pada tahun 2018 mencapai 29.649 ton, senilai Rp117 miliar. Angka impor tersebut sebenarnya sudah mengalami penurunan drastis dibandingkan pada tahun 2017 yang sebesar 51.849 ton, di mana nilainya mencapai Rp275 miliar.

Nah, benih kentang varietas atlantik lokal yang berhasil dikembangkan oleh Balitsa antara lain Median, Bliss, Omabeli Maglia dan Amabile. Sentra budidaya kentang varietas Atlantik lokal Median salah satunya ada di daerah Garut. Varietas Median juga terbukti lebih tahan penyakit dibandingkan dengan bibit Atlantik impor, sehingga banyak yang mulai beralih menggunakan bibit Median.

Varietas Cipanas

Farmers hands with freshly harvested vegetables. Fresh bio potatoes
Photo by JESHOOTS.COM / Unsplash

Jenis kentang sayur unggul berikutnya ialah varietas Cipanas. Umur tanam varietas ini cukup genjah, yakni 95-105 hari dengan rata-rata hasil panen mencapai 24,9 ton/ha. Jumlah tandan bunga kentang varietas cipanas mencapai 3-7 buah. Ciri dari umbi kentang ini antara lain kulitnya yang berwaena putih, mata umbi  dangkal dan permukaannya rata. Sedangkan warna daging umbinya berwarna kuning.

Salah satu keunggulan varietas cipanas ialah tahan terhadap penyakit busuk daun Pytophthora infestans. Namun yang perlu diperhatikan, varietas cipanas mudah terserang nematoda Melodogyne sp dan layu bakteri Pseudomoans solanacearum.